Di Tengah Gejolak Ekonomi dan Dollar AS, BUMDesa Kalipare Bertaruh pada Melon, Jamur, dan Sawi

  • Jun 11, 2026
  • Ikbar Zakariya

XPARETIMES — Ketidakpastian ekonomi global, fluktuasi nilai tukar rupiah, hingga kenaikan harga berbagai kebutuhan produksi menjadi tantangan yang dirasakan banyak sektor, termasuk pertanian. Di tengah situasi tersebut, BUMDesa Arto Moro di Desa Kalipare, Kabupaten Malang, memilih bertahan dengan mengembangkan budidaya melon greenhouse, jamur tiram, dan sawi sebagai penopang ekonomi desa.

Bagi para petani, gejolak ekonomi tidak selalu hadir dalam bentuk angka-angka makro yang sulit dipahami. Dampaknya justru terasa langsung ketika harga benih, pupuk, pestisida, dan berbagai sarana produksi pertanian terus mengalami kenaikan dari waktu ke waktu.

Pengelola Greenhouse Melon BUMDesa Arto Moro, Amirul, mengatakan bahwa tekanan biaya produksi menjadi tantangan yang semakin nyata dalam menjalankan usaha pertanian desa. Keterangan tersebut disampaikan saat ditemui di kawasan greenhouse melon BUMDesa Arto Moro dan diperkuat melalui komunikasi lanjutan via WhatsApp pada Senin (11/6/2026).

Menurut Amirul, meskipun aktivitas ekonomi masyarakat desa tidak menggunakan mata uang dollar AS, pengaruh perubahan nilai tukar tetap dirasakan melalui kenaikan harga berbagai kebutuhan produksi pertanian.

"Secara transaksi kami memang tidak menggunakan dollar. Akan tetapi ketika nilai tukar rupiah mengalami tekanan, harga benih, pestisida, dan beberapa kebutuhan produksi lainnya ikut naik. Dampaknya langsung terasa pada modal tanam yang harus kami siapkan," kata Amirul.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut membuat petani harus mengeluarkan biaya yang lebih besar untuk mempertahankan produktivitas. Di sisi lain, harga jual hasil panen tidak selalu mengalami kenaikan yang sebanding dengan peningkatan biaya produksi.

Akibatnya, keuntungan yang diperoleh petani menjadi semakin terbatas. Situasi itu juga memengaruhi kemampuan petani untuk melakukan pengembangan usaha maupun investasi teknologi yang sebenarnya dibutuhkan untuk meningkatkan efisiensi produksi.

"Permintaan pasar sebenarnya masih cukup baik. Produk yang kami hasilkan bisa terserap. Namun ketika biaya produksi naik lebih cepat daripada harga jual, ruang keuntungan menjadi semakin sempit," ujarnya.

Hal senada disampaikan Ahmad, petani yang tergabung dalam Kelompok Tani (Poktan) Pohjejer Makmur Bersatu. Menurutnya, tingginya kebutuhan pasar terhadap sayuran sebenarnya menjadi peluang bagi petani untuk terus berproduksi. Namun kondisi tersebut belum sepenuhnya mampu meningkatkan pendapatan karena biaya produksi terus mengalami kenaikan.

"Permintaan pasar sebenarnya sangat tinggi dan hasil panen kami relatif mudah terserap. Dari sisi pemasaran tidak ada kendala yang berarti. Namun harga benih, pupuk spray, dan pestisida terus naik, sementara harga jual sayuran di pasar tidak banyak berubah. Akibatnya keuntungan yang diterima petani semakin tipis, bahkan dalam beberapa kali masa tanam nyaris tidak ada laba yang tersisa," kata Ahmad.

Di tengah tantangan tersebut, BUMDesa Arto Moro tetap mempertahankan program budidaya yang telah berjalan selama beberapa tahun terakhir. Melon greenhouse menjadi salah satu komoditas unggulan yang terus dikembangkan karena memiliki nilai ekonomi yang relatif tinggi. Selain itu, budidaya jamur tiram dan sawi juga menjadi bagian dari strategi menjaga keberlanjutan usaha sekaligus memenuhi kebutuhan pasar lokal.

Menurut Amirul, pilihan untuk mengembangkan komoditas tersebut tidak hanya didasarkan pada potensi keuntungan, tetapi juga pada upaya menjaga perputaran ekonomi desa agar tetap berjalan di tengah berbagai tekanan yang dihadapi sektor pertanian.

"Kami berusaha mencari komoditas yang pasarnya jelas dan bisa dikelola secara berkelanjutan. Karena yang terpenting bukan hanya panen, tetapi bagaimana usaha ini tetap hidup dan memberi manfaat bagi masyarakat desa," katanya.

Selain persoalan biaya produksi, sektor pertanian juga menghadapi tantangan lain berupa minimnya regenerasi petani. Amirul menilai, semakin tingginya risiko usaha dan tipisnya keuntungan membuat banyak generasi muda enggan memilih pertanian sebagai profesi utama.

Padahal, menurut dia, keberlanjutan sektor pangan sangat bergantung pada hadirnya generasi baru yang bersedia terjun ke dunia pertanian dengan pendekatan yang lebih modern dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.

"Kalau anak muda melihat pertanian hanya penuh risiko dan keuntungannya kecil, tentu mereka akan memilih sektor lain. Karena itu pertanian harus tetap memiliki nilai ekonomi yang menarik agar ada regenerasi," ujarnya.

Di tengah berbagai tantangan ekonomi yang dihadapi Indonesia saat ini, mulai dari tekanan nilai tukar, kenaikan harga bahan baku, hingga ketidakpastian pasar global, upaya yang dilakukan BUMDesa Arto Moro menunjukkan bagaimana desa berusaha membangun daya tahannya sendiri.

Bagi petani Kalipare, ketahanan pangan tidak hanya berbicara soal ketersediaan hasil panen. Lebih dari itu, ketahanan pangan juga bergantung pada kemampuan petani mempertahankan usaha, menjaga perputaran modal, serta menyiapkan generasi penerus yang akan mengelola sektor pertanian di masa depan.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, budidaya melon greenhouse, jamur tiram, dan sawi yang dijalankan BUMDesa Arto Moro menjadi gambaran bagaimana desa berupaya menjawab persoalan ekonomi dari tingkat paling dasar: memastikan pertanian tetap hidup, produktif, dan memberi harapan bagi masyarakatnya. (*)